• Rabu, 22 November 2017

Pasca COP 21, Negara Benua Afrika Harapkan Iklim Lebih Baik

african drought

Konferensi tingkat tinggi yang membahas isu perubahan iklim yang dikenal dengan 21st Conference of The Parties (COP 21) telah berakhir. Beberapa negara telah pulang ke negara dengan harapan dapat menyesuaikan agenda politik lingkungan domestiknya dengan kesepakatan yang telah disepakati pada konferensi tersebut. Harapan terbesar datang dari negara-negara benua Afrika yang sangat bergantung pada komitmen teguh negara peratifikasi COP 21 tersebut.

Hasil konferensi tersebut menyatakan bahwa semua negara yang terlibat wajib untuk mengurangi emisi karbon tidak melebih ambang batas yang disepakati yaitu 2,7 derajat Celcius. Sebelum konferensi tersebut diadakan, mayoritas negara menyetuji ambang batas yang disepakati adalah 3,6 derajat Celcius. Komitmen Indonesia sendiri mengacu pada konferensi di Kopenhagen, Denmark beberapa waktu yang lalu akan tetap mengurangi emisi karbon sebanyak 44 persen hingga tahun 2020 ke depan.

Mengapa negara benua Afrika sangat mengharapkan komitmen dari setiap negara anggota? Beberapa penelitian menyatakan bahwa jika dunia mengalami pemanasan global melebihi ambang batas yang disepakati, benua tersebut adalah wilayah pertama yang terkena dampak paling besar. Hingga saat ini, Afrika masih sering dilanda kekeringan dan kelaparan. Pasokan makanan masih sangat langka. Hal tersebut akan berdampak pada konflik wilayah dan perang saudara.

Para ahli menjelaskan bahwa Afrika akan mengalami kekeringan lebih parah daripada sebelumnya. Sumber makanan akan semakin menipis dan masyarakatnya akan sangat sulit untuk bertani. Beberapa negara di Afrika memang masih menggantungkan hidupnya dari bercocok tanam. Namun, kekeringan di beberapa negara membuat para petani sulit untuk bisa menyimpan cadangan makanannya untuk waktu yang lama. Jika pemanasan global terjadi, akan makin sulit bagi mereka untuk dapat menyimpan cadangan makanannya.

Menurut Mo Ibrahim Foundation, perubahan iklim yang ganas akan memaksa penduduk desa melakukan urbanisasi besar-besaran ke sejumlah kota utama. Dengan keadaan seperti itu, mereka memprediksi bahwa kota besar di Afrika akan mengalami peningkatan jumlah penduduk dari 435 juta menjadi 1,3 miliar juta jiwa.

Selain masalah kepadatan penduduk, Intergovernmental on Climate Change menjelaskan juga bahwa penambahan jumlah tersebut akan diikuti pula oleh masalah kesehatan. Kota Nairobi di Kenya misalnya. Mereka mengatakan bahwa kota tersebut sudah bebas dari penyakit Malaria selama beberapa dekade ini. Tetapi, perubahan iklim dan urbanisasi justru akan menjadikan Malaria dapat berkembang dengan bebas. Di antara negara-negara Afrika, hanya Afrika Selatan yang masih enggan meratifikasi COP 21 karena khawatir hal tersebut dapat berpengaruh pada turunnya pertumbuhan ekonomi mereka.

Iqbal Ramadhan