• Rabu, 22 November 2017

COP21 Hantui Masa Depan Industri Tambang

coal mining

Hasil kesepakatan konferensi tingkat tinggi perubahan iklim COP21 di Paris bulan Desember lalu menyisakan berbagai macam pertanyaan. Salah satunya adalah masa depan industri batu bara yang “dituduh” menjadi biang keladi pemanasan global. Berdasarkan dengar pendapat dalam konferensi itu, energi fosil menjadi penyumbang terbesar terciptanya efek rumah kaca.

Dua negara penyumbang emisi karbon terbesar adalah Tiongkok dan AS. Keduanya merupakan pengguna batu bara terutama Tiongkok yang kini sedang “panas” untuk menggenjot laju pertumbuhan ekonominya. Batu bara menjadi salah alat untuk mendorong pertumbuhan industri di negara tirai bambu dan menjadi penyumbang emisi terbesar sebanyak 24 persen.

Karena dituding menjadi biang keladi pemanasan global, nilai saham perusahaan batu bara pun turut terkena dampaknya. Berdasarkan keterangan yang dipaparkan oleh Goldman Sachs, industri batu bara masih menyumbang 35 persen pasar saham dunia. Namun demikian, nilai saham mereka turun sebanyak 9 persen sejak tahun 2009. Bahkan di tahun 2018, nilai total keseluruhan saham mereka akan turun menjadi 33 persen.

Hasil keputusan COP21 menerangkan bahwa setiap negara yang terlibat harus melakukan diversifikasi energi khususnya pada energi yang terbarukan. Adapun data yang dipaparkan oleh 350.org dan Divest-Invest menjelaskan bahwa sekitar 500 perusahaan ternama di dunia mulai berinvestasi di energi non-fosil.

Investasi di energi non-fosil itu antara lain tenaga matahari, air dan angin serta gas murah. Menurut mereka angka dan jumlah investor di energi terbarukan bertambah banyak sejak setahun yang lalu. Setidaknya tahun lalu, hanya sekitar 181 organisasi dunia yang berinvestasi di bidang tersebut.

Semakin berkembangnya diversifikasi energi memberikan pukulan yang cukup telak bagi masa depan industri batu bara. Puncaknya adalah perusahaan asuransi ternama asal Jerman, Allianz yang menyatakan telah menarik investasinya sebanyak 4,3 miliar dolar dari perusahaan yang bergerak di bidang batu bara. Selain itu, pemerintah Norwegia pun menarik 30 persen sahamnya di beberapa perusahaan serupa.

Walaupun masa depan industri batu bara menjadi tidak menentu, Benjamin Sporton, ketua dari World Coal Association menjelaskan bahwa industri tersebut tidak akan berubah banyak. Salah satu alasannya adalah kawasan Asia Tenggara yang masih mengandalkan batu bara untuk pembangkit listrik. Selain itu, ia menjelaskan pula bahwa pemerintah India telah memperbaharui kontrak dengan beberapa perusahaan batu bara untuk memperbaharui infrastruktur listrik mereka.

 

Iqbal Ramadhan