• Kamis, 23 November 2017

Tidak Laporan Keberlangsungan Munculkan Risiko Investasi

risiko investasi, sustainability

Menjelang MEA 2015, tiap perusahaan diingatkan kembali untuk membuat laporan keberlanjutan untuk menghindarkan kemungkinan investasi dari risiko lingkungan dan risiko sosial. Menurut mantan Menteri Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaatmadja, hal ini penting sehingga perusahaan yang sudah melaporkan keberlangsungan perusahaannya patut mendapatkan apresiasi. Sarwono adalah menteri yang menjabat pada periode 1993 hingga 1998.

Menurut dia, cepat atau lambat pelaporan keberlanjutan akan menjadi kewajiban. Manfaatnya adalah untuk memberi keyakinan kepada baik investor lokal maupun investor internasional dan juga pada kreditor. Jika Ada data yang jelas mengenai hal ini, maka investor dapat memrediksikan kemungkinan dan peluang investasi.

Saat ini hampir semua perusahaan perbankan telah membuat laporan keberlanjutan. Sekitar 15% menurut ketua program National Center Sustainability Reporting Ali Darwin diperkirakan telah membuat laporan tersebut. Menurutnya, Otoritas Jasa Keuangan perlu mengambil kewenangan untuk mengatur laporan keberlanjutan di Indonesia.

Ia mengatakan bahwa OJK perlu dilibatkan dalam hal ini untuk mengambil langkah strategis kapan laporan ini diwajibkan bagi perusahaan publik. Selain itu perlu memrioritaskan bidang usaha mana yang perlu didahulukan. “Kita mungkin bisa mengambil acuan dari bursa saham di Singapura,” ujar Ali.

Pada standar penilaian PBB terdapat 17 kriteria pelaporan berkelanjutan dalam suatu perusahaan. Perusahaan akan mampu mengembangkan investasi untuk mendapatkan fasilitas pendanaan maupun untuk melakukan kemitraan. Laporan ini salah satunya juga akan mendukung kampanye pengembangan keberlanjutan atau sustainable development.

Grace Eldora