• Kamis, 23 November 2017

Industri Kosmetik Korea Selatan Tingkatkan Nilai Dagang

https://www.youtube.com/watch?v=h9xTDpQnnk4&index=34&list=UUOkV-EsKn5xHgZDLZsPnJwA

Penguatan mata uang Yuan dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan fluktuasi luas di pasar saham terkait keputusan IMF untuk inklusi keuangan mata uang Tiongkok. Sementara itu inflasi dagang terjadi pada Korea Selatan. Data terbaru telah dirilis mengenai perkembangan ekonomi terbaru di negeri ginseng tersebut.

Sepanjang November, ekspor Korea Selatan menurun hingga 4,7% dibandingkan satu tahun sebelumnya. Sementara ekspor sepanjang tahun telah menurun 7,4%. Surplus perdagangan tertinggi adalah 10,4 miliar dolar AS sementara jumlah impor merosot melebihi angka ekspor. Penjualan produk-produk utama untuk ekspor melonjak 134% dan produk telekomunikasi meningkat 24%, baja menurun 27%, dan produk mesin menurun 14%. Pemerintah Korea Selatan melihat perkembangan yang cukup signifikan dalam industri kosmetika yang meningkat hingga 50%. Hasil perdagangan ke Tiongkok yang mencapai 0.25% dari perdagangan luar negeri Korea Selatan telah menurun 7%. Penjualan ke AS menurun 12%, menurun 19% ke Jepang. Sebaliknya, peningkatan sebesar 52% terjadi pada perdagangan ke Uni Eropa.

Performa ini masih dianggap sementara dan Menteri Perdagangan menyampaikan bahwa jumlah ini akan meningkat pada Desember 2015. Menteri Perekonomian Choi Kyung Hwan menyampaikan bahwa ekspor Korea Selatan pada akhir tahun ini akan mulai memberi pengaruh pada produksi dan investasi. Sektor ekspor yang lebih lemah, khususnya ke Tiongkok yang merupakan partner dagangan terbesar Korea Selatan, mungkin saja akan didukung pandangan ahli ekonomi yang mendukung kenaikan suku bunga yang lebih rendah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan menjadikan nilai tukar Korea Selatan lebih kompetitif.

Industri kosmetik masih kecil dibandingkan dengan negara-negara raksasa penghasil kosmetik seperti Perancis dan Amerika Serikat, namun angka menunjukkan perkembangan pesat industri ini. Sepanjang 2014, Perancis masih memegang predikat tertinggi penghasil kosmetik yakni melebihi 7.600 miliar dolar AS. Negara selanjutnya adalah Amerika Serikat dengan penghasilan setengahnya, kemudian disusul Jerman, Eropa, Korea Selatan dengan nilai hampir mencapai 2.000 dolar AS, kemudian Italia, dan Jepang. Sementara pada 2015, ekspor kosmetika terbesar Korea Selatan berada di awal tahun, yakni mencapai sekitar 140% dan sempat mengalami pasang surut hingga pertengahan tahun.  Data ini diperoleh dari Asosiasi Perdagangan Internasional Korea.

Sementara itu, perusahaan-perusahaan Jepang telah telah mengalami lonjakan terbesar dalam delapan tahun terakhir pada kuartal ketiga ini. Hal ini menyebabkan meningkatnya kemungkinan resesi ekonomi. Menurut data kementerian keuangan Jepang, pengeluaran negara secara umum meningkat hingga 11,2% dalam tiga bulan terakhir dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2014, pengeluaran Jepang secara signifikan meningkat sehingga para ekonom sempat meramalkan bahwa resesi Jepang yang terjadi tidak seperti tanda-tanda yang ditunjukkan sebelumya. Namun yang terjadi sebaliknya, resesi melebihi perkiraan.

Sepanjang 2015, sekali lagi Jepang diguncang oleh angka pengeluaran yang melunjak segera setelah media memberitakan bahwa negara ini sedang mengalami resesi pertengahan tahun. Ekonom Yoshiki Shinke dari Institut Penelitian Dai-Ichi Life dan peneliti Taro Saito dari Institut Penelitian NLI di Tokyo menyampaikan bahwa masa-masa ini menunjukkan indikasi meningkatnya angka capex.

“Masih terlalu cepat untuk menyatakan bahwa Jepang merosot, namun lebih tepat untuk mengatakan bahwa perekonomian telah berhenti menunjukkan kemerosotan. Kenaikan dalam belanja modal membuat data GDP akan kembali direvisi,” ujar Shinke.

Grace Eldora