• Rabu, 22 November 2017

Google Sangkal Telah Salah Gunakan Data Pelajar

pendidikan, teknologi, Google

Google menyangkal tuduhan bahwa perusahaan mesin pencari terbesar tersebut melacak dan menyimpan data pelajar lewat jasa pendidikan Google. Dalam sebuah postingan publik, Google menyampaikan pembelaannya terhadap perlindungan privasi. Direktur Google Apps for Education, Jonathan Rochelle menulis di sebuah posting blog GAFE bahwa ia mengapresiasi fokus EFF dalam perlindungan data pelajar. Pihaknya yakin bahwa langkah-langkah yang diambil telah sesuai dengan regulasi dan perjanjian yang ada, termasuk Student Privacy Pledge atau persetujuan privasi pelajar yang telah ditandatangani pada awal tahun ini.

Komisi Perdagangan Federal melayangkan keluhan yang diduga oleh Electronic Frontier Foundation (EFF) mengenai praktik penyalahgunaan data pelajar oleh Google dan sejumlah perusahaan teknologi lainnya. Hampir satu tahun sebelumnya, pada Januari 2015, sebuah kesepakatan telah dilegalkan antara perusahaan-perusahaan teknologi berisi perjanjian hanya akan menggunakan data pelajar untuk tujuan-tujuan edukasi. “Google telah mengumpulkan, mempertahankan, dan menggunakan data yang ada dalam aplikasi jasa Google for Education selama pengguna terintegrasi dalam akun Google tersebut terlepas peranti atau mesin pencari yang digunakan,” tulis EFF dalam pernyataan pers tersebut.

Sebagai tambahan catatan tersebut, Google telah dengan sengaja menggunakan data tersebut di luar peningkatan pengalaman pendidikan untuk pelajar. Misalnya sebagai data untuk meningkatkan penawaran terhadap produknya dan sebagai target pengiklan di luar jasa edukasi Google. Kelompok pembelaan yang dibentuk oleh Google, bernama Alphabet, menggunakan data yang dikumpulkan ini untuk membangun “Profil perilaku para pelajar ketika mereka menggunakan navigasi ke aplikasi berbasis situs Google di luar untuk kepentingan pendidikan”, termasuk situs seperti Blogger dan YouTube. EFF menyampaikan bahwa Google telah mengasosiasikan aktivitas pencari dengan akun edukasi para pelajar dan mengirimkan iklan pada situs-situs non-edukasi.

“”Dengan kata lain, ketika seorang pelajar masuk ke dalam akun pendidikan mereka. Kemudian menggunakan Google News untuk membuat sebuah laporan tentang peristiwa saat ini atau penelitian sejarah menggunakan Google Books, pelajaran geografi yang menggunakan Google Maps, atau melihat video sains di YouTube, Google Tracks yang mencatat kegiatan dan feed ke suatu profil yang terpasang ke akun pendidikan para siswa. Meskipun Google mengetahui bahwa orang yang menggunakan akun tersebut adalah pelajar, dan akun tersebut dibuat untuk keperluan pendidikan,” ujar Rochelle.

Satu tahun sebelumnya, Permerintah AS mengumumkan komitmen untuk melindungi berbagai data milik pelajar yang dikategorikan sebagai privasi dan tersimpan di jaringan internet. Sebagai langkah komitmen ini, perusahaan-perusahaan teknologi juga dituntut untuk menjaga privasi ini selaku penyedia layanan dengan basis internet. Perjanjian ini ditutup oleh penandatangan kesepakatan.

Perusahaan teknologi hanya diperbolehkan menggunakan data-data pribadi atas persetujuan sekolah, guru, dan orang tua. Penyedia layanan diwajibkan melindungi data privasi para pelajar, termasuk tidak memperjualbelikan data tersebut. Sebanyak 75 perusahaan termasuk Microsoft dan Apple telah melakukan penandatanganan perjanjian dan mendukung penuh usaha perlindungan privasi pelajar di AS. Saat itu, Google dikabarkan menolak penandatangan tersebut dan hanya mengutarakan komitmen perusahaannya tanpa perlu penandatanganan. Perusahaan ini paling banyak digunakan sebagai produk layanan berbasis internet oleh kategori tersebut. Sekitar 40 juta orang dengan mayoritas pelajar terkoneksi dengan Google Apps for Education.

Pengacara Sophia Cope memulai kampanye “Spying on Students” atas nama EFF sebagai respon atas permohonan orang tua mengenai privasi para anak mereka di sekolah terkait pembaharuan teknologi edukasi. Menurut Cope, tujuan kampaye ini untuk meningkatkan kesadaran risiko privasi isu seklah dalam memperkenalkan peranti-peranti baru teknologi. “Kami menyadari bahwa isu ini lebih besar dari kasus-kasus tertentu, sehingga kamu memutuskan bahwa diperlukan komisi untuk pelajar dan kampanye untuk meningkatkan kesadaran mengenai isu ini,” jelasnya.

Grace Eldora