• Kamis, 23 November 2017

Asuransi Akan Makin Berkembang ke Sektor Non Finansial

Arfandi Arief

Pada tahun berikut, strategi bisnis asuransi akan berkembang pada sektor finansial namun tidak akan banyak perbedaan strategi bisnis bagi perusahaan-perusahaan asuransi secara umum pada 2016. Sejak 2015 perusahaan asuransi masih akan sangat bergantung kepada strategi perusahaan asuransi tersebut. Bagi asuransi yang terkonsentrasi pada grup bisnis akan melihat berbagai proyek besar sementara asuransi yang bergerak di bidang retail akan mengikuti kemampuan konsumen (consumer capability) untuk membeli produk. Hal ini disampaikan oleh Arfandi Arief, Presiden Direktur Asuransi Takaful Umum. “Tren asuransi akan tergantung dari strategi company,” jelasnya.

Namun terkait hal ini, perusahaan-perusahaan asuransi pada dasarnya telah mempersiapkan dan mengantisipasi situasi yang mungkin terjadi atau tidak di masa depan. Sementara itu dalam konteks asuransi syariah, akan ada beberapa perubahan regulasi di tahun berikut. “Misalnya dalam konteks parameter kesehatan, asuransi punya ketentuan dan defenisi baru tentang kesehatan perusahaan. Itu juga merupakan suatu tantangan,” jelas Arfandi.

Situasi di Indonesia saat ini, masih ada kesenjangan antara peraturan yang sudah ada dengan apa yang dikerjakan di banyak perusahaan (best practice). Tantangan dalam dunia asuransi secara persis, tidak hanya untuk memenuhi standar dalam tata kelola dan compliance namun juga membawa risk management sebagai bagian dari kultur perusahaan. Hal ini menjadi investasi bagi perusahaan untuk menerapkan risk awareness untuk mengidentifikasi tantangan yang mungkin muncul. “Kita harus ada investasi di situ,” ucapnya. Dalam menyadari adanya risiko, akan ada peluang investasi sehingga kemampuan ini akan dimanfaatkan perusahaan untuk membuat identifikasi risiko di masa depan. “Apa yang menjadi sesuatu yang akan mengurangi risiko yang mungkin muncul,” tambahnya.

Dalam tata kelola perusahaan, khususnya di suatu lembaga keuangan, memahami risiko merupakan suatu keniscayaan. Perusahaan ini tetap mengelola aset-aset masyarakat dan perbankan mengelola uang masyarakat, asuransi mengelola kepercayaan masyarakat. Khususnya dalam konteks bisnis asuransi, nilai perusahaan yang dikedepankan adalah tata kelola itu sendiri. “Kita sebagai orang-orang profesional untuk mengelola risiko peserta, jadi bukan transaksi jual beli sehingga perusahaannya akan bisa jalan,” jelasnya.

Jika sebelumnya perusahaan asuransi mengenal risiko yang berhubungan dengan kesehatan dan asuransi jiwa, saat ini akan diperluas pada risiko korporat dan finansial, risiko regulasi, dan sebagainya. Dengan memahami tata kelola, salah satu peluang yang mulai dilirik oleh industri ini adalah keberagaman media sosial. Pada poin ini, yang perlu dilakukan adalah akan banyak keuntungan dan kelebihannya. Terkait dengan tren startup dalam bidang e-commerce, asuransi membutuhkan usaha lebih besar untuk meyakinkan keberlanjutan usaha tersebut. Perlu diingat kembali bahwa asuransi merupakan bisnis yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut dan intensif sehingga produk-produk asuransi bisa mendukung bisnis yang memanfaatkan infrastruktur teknologi tersebut. Poin pentingnya adalah bahwa perusahaan startup mampu mempertanggungjawabkan produk miliknya.

Pembahasan lebih lanjut akan dibahas pada seminar internasional Bali Enterprise Risk Management (Bali ERM 2015) yang ditujukan pada para praktisi, lebih khusus untuk perusahaan-perusahaan yang dikategorikan sarat dengan regulasi (heavy regulated) seperti institusi keuangan. Secara relatif, Indonesia masih tertinggal dalam penerapan manajemen risiko dan tata kelola perusahaan (corporate governance). Jika sebelumnya secara umum risk awareness perusahaan-perusahaan di Indonesia berada pada level top management, Indonesia perlu meningkatkan risk awareness hingga ke jajaran terkecil tiap perusahaan. Arfandi mengatakan bahwa setidaknya kesadaran tersebut sudah sampai di level middle management sehingga kesadaran risiko sudah menjadi kultur tiap anggota perusahaan. “Mengenai safe bank juga, risk culture itu belum menyeluruh di korporasi. Itu yang masih banyak sekali ditemukan di Indonesia,” tukasnya.

Grace Eldora