• Kamis, 23 November 2017

Performa Terburuk Rupiah di Pasar Asia

rupiah, Indonesia

Rupiah diperkirakan akan menempati posisi terendah di Asia sebagai mata uang dengan performa paling buruk. Nilainya terhadap cadangan mata uang asing menyusut ditambah dengan risiko aliran modal yang keluar. Sebelumnya, sejak November rupiah telah merosok 6,2%. Meskipun sempat merangkak naik, namun ditaksir bahwa hingga akhir 2016 angka ini masih akan berada di titik lemah. Dibandingkan dengan mata uang ringgit Malaysia yang mengalami pelemahan selama dua tahun terakhir, saat ini jatuhnya rupiah mencapai dua kali pelemahan nilai ringgit.

“Rupiah Indonesia memiliki peringkat tinggi terhadap kerentanan aliran modal dalam scorecard,” ujar Kepala Strategis Devisa Asia Societe Generale SA yang berbasis di Singapura, Jason Daw. Ia merupakan pihak ketiga yang memrediksikan nilai mata uang rupiah pada 2016.

Nilai tukar Indonesia telah menurun pada sembilan bulan terakhir sementara investor non domestik masih menahan 38% obligasi mata uang lokal. Hal ini membuat rupiah akan sangat rentan terhadap arus bank sentral AS Federal Reserve yang menaikkan tingkat suku bunga ditambah dengan perlambatan ekonomi Tiongkok. Presiden Joko Widodo mencoba untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap ekspor komoditas yang masih baru akan berdampak pada jangka waktu tertentu. Para ekonom masih menyampaikan perbaikan dalam pertumbuhan ekonomi tahun depan.

Societe Generale memproyeksikan bahwa rupiah akan melemah hingga ke nilai 15.300 per dolar AS pada penghujung tahun depan. Rupiah sempat menguat 0,9% sebelumnya ke nilai 13.788 di Jakarta dan menjadikan nilai tukar rupiah menurun hingga 10% pada tahun ini dan merupakan titik terendah sejak Desember 2013. Posisi ini akan mengurangi posisi tawar Bank Indonesia untuk memperkuat mata uang terhadap naiknya suku bunga AS dan perlambatan ekonomi Tiongkok sehingga dalam jangka panjang akan menekan harga komoditas. Dampaknya juga akan secara signifikan melemahkan Yuan.

Obligasi rupiah dengan kepemilikan non domestik telah meningkat 30% sejak lima tahun lalu dan mencapai puncaknya pada Januari sebesar 40%. Proporsi saat ini dibandingkan dengan 31% di Malaysia dan 15% di Thailand. Menurut survey, perekonomian Indonesia akan bertumbuh 4,7% pada tahun ini dan mencapai 5,1% pada tahun mendatang. Sementara itu Bank Indonesia memrediksikan pertumbuhan pada 2016 akan berkisar antara 5,2% hingga 5,6%.

Sejak reshuffle kabinet Agustus lalu, pemerintah telah meluncurkan sejumlah kebijakan termasuk menyederhanakan ijin melakukan kegiatan bisnis dan mengubah pembatasan pada tenaga kerja asing. Selanjutnya pemerintah berencana akan memotong pajak dan akan menghabiskan lebih banyak pada sektor infrastruktur pada tahun mendatang.

Grace Eldora