• Minggu, 21 Januari 2018

Suku Bunga Fed Akan Meningkat Pada 2016 Hingga 2,4%

suku bunga, Fed, Bank Dunia

Untuk pertama kalinya sejak 2006 Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal menaikkan suku bunganya sebesar 0,25% beberapa waktu lalu. Hingga tahun depan, suku bunga AS akan terus naik hingga ke level 2,4%. Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung menilai bahwa Bank Sentral AS menyampaikan kenaikan suku bunga acuan atau Fed fund rate dengan cara yang tidak terlalu mengagetkan pasar sehingga respon sejauh ini cukup positif.

Kondisi sebelumnya, perdagangan di pasar valuta asing menunjukkan kenaikan suku bunga The Fed seperti yang sudah diduga sebelumnya dan price in sedangkan perdagangan di bursa kemarin relatif mengalami penguatan.

Menurut Juda Agung, dampak kenaikan itu sesuai dengan perkiraan dan dampak yang ditunjukkan masih baik terhadap kondisi pasar keuangan Indonesia. Gubernur The Fed Janet Yellen telah menyatakan bahwa pada 2016 kenaikan suku bunga masih akan dikomunikasikan dengan baik setelah mempertimbangkan perekonomian AS yang membaik. Kenaikan ini masih akan terus naik hingga level 2,4%.

“Juga akan secara hati-hati tapi tidak menimbulkan ketidakpastian di pasar. Kenaikan ini menurut kami cukup baik komunikasinya. Pasar sudah antisipasi sehingga penyesuainnya tidak terlalu besar. Mudah-mudahan ke depan komunikasinya baik dan tidak menimbulkan gejolak di pasar keuangan global,” jelas Juda.

Sebagai antisipasi goncangan setelah kenaikan suka bunga AS, Bank Dunia mengingatkan negara-negara berkembang untuk memperkuat ketahanan ekonomi dan mendorong pertumbuhan lebih cepat. Kaushik Basu selaku Kepala Ekonom dan Senior Wakil Presiden di World Bank mengatakan bahwa negara berkembang tengah berhadapan dengan perlambatan ekonomi global, pelemahan perdagangan internasional, dan kejatuhan harga komoditas.

Regulator harus lebih mengawasi bank, khususnya pada negara dengan inflasi tinggi dengan kewajiban valuta asing yang besar. Jika memungkinkan perlu mendorong pertumbuhan lewat agenda reformasi dengan memberi sinyal pada para investor bahwa perekonomian akan membaik sementara reformasi struktural tidak akan serta-merta membuahkan hasil.

Jurnalis Maggie McGrath menyampaikan beberapa saran, seperti memastikan untuk mengambil pinjaman dengan kurs tetap seperti bagi yang mengambil pinjaman pelajar atau hipotek sehingga suku bunga bertahan tetap sama. Sementara jika memiliki pinjaman dengan kurs variabel atau variable-rate seperti pinjaman pelajar, hipotek dengan kurs yang dapat disesuaikan atau adjustable-rate, risk averse perlu penasihat untuk pendanaan kembali untuk kurs tetap refinancing for fixed rate sehingga bisa menguncinya dalam kurs tetap.

Jika memiliki akun rekening tabungan, maka suku bunga akan kemungkinan besar tidak akan berubah. Bank akan cenderung memberi pemberatan kenaikan suku bunga dalam bentuk kredit pinjaman dan bukan pada akun tabungan. Selebihnya, jika memiliki rekening tabungan berbunga tinggi dengan tingkat pengembalian satu persen atau lebih, maka kenaikan tarif kemungkinan akan meningkatkan nilai. Ia menambahkan bahwa mungkin akan lebih baik untuk mengambil penawaran Introductory annual percentage rate (APR) dalam kartu kredit karena transfer balance untuk pay down debt akan dihitung 0% pada APR sementara penerbit kartu akan mengikuti suku bunga Fed.

Grace Eldora