• Rabu, 22 November 2017

Kesadaran dan Mitigasi Risiko Kunci Utama Efisiensi

Mitigasi Risiko, risk awareness

Secara umum, kesadaran untuk mengidentifikasi dan mitigasi risiko muncul sebagai pengetahuan umum yang semakin dibutuhkan untuk menopang peradaban modern yang telah dibangun sehingga berjalan berkelanjutan. Sering kali menjalankan kegiatan usaha, menjalankan fungsi-fungsi perusahaan, atau fungsi pemerintahan tidak mungkin hanya dijalankan tanpa visi, tujuan, dan sasaran yang jelas. Maka dibutuhkan satu sistem yang dapat diterapkan dalam tiap sektor, salah satunya sebuah fungsi yang dinamakan manajemen risiko. Manajemen risiko dan tata kelola yang baik menjadi penting untuk meningkatkan kualitas organisasi, perusahaan, atau pemerintah.

Permasalahannya, di Indonesia kesadaran untuk potensial risiko masih sangat terbatas. Beberapa permasalahan yang menjadi sorotan pada level firma adalah kurangnya pengetahuan mengenai kerangka tata kelola formal (good governance framework), kurangnya orang kunci yang memahami dan sadar mitigasi risiko, pengaruh yang terlalu besar dari para pemegang saham, dewan yang terlalu dikendalikan, adanya konflik antar pihak, dan kerangka yang bersifat non-komersial. Sementara beberapa permasalahan di level pasar menyangkut pertentangan antara kepatuhan dan penambahan nilai pada suatu organisasi, kasus-kasus bisnis yang tidak jelas dan tidak teregsitrasi, lemahnya kekuatan pasar, dan kesulitan menemukan direksi yang memiliki kualifikasi dalam manajemen risiko.

Di balik itu, organisasi, korporasi, pemerintahan, maupun fungsi jabatan lainnya perlu edukasi untuk mengangkat kekuatan pasar dan diturunkan dalam rencana tindakan (action plan) dalam tiap level management. Tujuannya bukan hanya untuk melindungi investasi, namun juga membawa nilai untuk perusahaan. Indonesia sebagai negara yang mengadopsi sistem manajemen risiko dengan model yang sama dengan sistem yang digunakan di Tiongkok dan Brazil. Sistem manajemen risiko masih akan terus berkembang dalam skala global dan Indonesia mulai terbuka menyampaikan masukan, seperti risiko sosial dan benchmark. Pola penerapan di tiap negara akan berbeda sesuai pengaruh sosial yang ada dalam demografi masyarakatnya. Hal yang terus berkembang ini tetap memiliki nilai lebih tertentu sehingga suatu organisasi atau risk owner perlu mengikuti instruksi yang jelas dan proper.

Pada poin ini dibutuhkan pengetahuan dan kesadaran dalam manajemen risiko. “Dewan direksi (Board of Directors) juga harus menyediakan pelayanan itu dan ada tantangan menyediakan mekanisme pengendalian sehingga penerapan manajemen risiko bisa berjalan dengan baik. Sebagai contoh bank multinasional dengan total aset dan kapitalisasi pasar terbesar yaitu ICBC milik Tiongkok, mereka memiliki supervisi dan jajaran atas manajemen memiliki fungsi challange (tantangan) sehingga dapat meneruskannya tantangan tersebut hingga ke level terendah dari perusahaannya,” ujar James Christopher Razook, Senior Operations Officer dari International Finance Corporation.

Grace Eldora