• Rabu, 22 November 2017

TKDN Pancing Perusahaan Teknologi Asing

Kominfo, riset dan teknologi, Apple. Google

Menyusul regulasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), perusahaan teknologi Apple berencana membangun pusat riset dan pengembangan (Research and Development atau R&D) di Indonesia. Langkah ini diikuti dengan pertemuan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dengan Apple saat berkunjung ke Silicon Valley, San Fransisco.

Dalam kunjungan ini Rudiantara menyatakan, perusahaan yang dikepalai Tim Cook ini masih harus membicarakan lebih rinci lagi mengenai kapan memulai pembangunan R&D. Sementara kesepakatan masih sebatas konsep. “Konsepnya mereka sudah setuju bakal bangun R&D di sini. Akan sama konsepnya seperti di Brazil. Tapi belum tahu mau di kota mana saja R&D-nya, lebih banyak lebih bagus,” jelas Rudiantara.

 

Selain itu, tiga perusahaan telekomunikasi Indonesia telah berpartisipasi pada proyek balon raksasa Google. Perusahaan mesin pencari terbesar ini akan menerbangkan alat dengan bantuan balon udara dengan ketinggian 20 kilometer di atas dataran Indonesia. Rencana ini dinamakan Proyek Loon untuk memperluas akses internet melalui sinyal radio ke antena yang dipasang di atas gedung. Proyek ini akan mempermudah masyarakat yang tinggal di daerah dengan kontur tanah yang sulit dijangkau.

Menurut Rudiantara, sampai saat ini TKDN sebesar 30% masih dibicarakan lebih rinci oleh Kementerian Perindustrian. Arah pembicaraan ini akan dibagi dua. Pertama, berada di aspek pengembangan R&D serta desain. Kedua, akan membahas soal manufaktur yang dibagi menjadi dua poin, yakni komponen perangkat lunak dan perangkat keras.

Lebih lanjut ia mengatakan, perusahaan internasional mulai melihat pasar di Indonesia cukup baik. Karena itu, mereka mulai berencana mendirikan pabrik di Indonesia. Timah menjadi salah satu bahan utama telepon pintar iPhone dan produk Apple lainnya. Sementara Indonesia adalah negara produsen timah terbesar di dunia. Terkait hal ini, Rudiantara memilih untuk tidak berkomentar. Menurutnya, hal ini bukan bidangnya.

“Tidak, saya tidak tahu soal itu. Saya belum dengar. Kalau memang ada pembicaraan soal itu, sudah pasti saya tidak ada,” tambahnya. Sebelumnya, sejumlah produsen ponsel pintar sepakat untuk membangun pabrik di Indonesia seperti Oppo, Samsung, dan Sony. Menjelang MEA 2016, perusahaan asing mulai melihat peluang besarnya pasar Indonesia. Hal ini perlu ditelaah kembali¬†risiko dan peluangnya.

Grace Eldora