• Kamis, 23 November 2017

Konsep Bank Tanpa Bank

perbankan, finansial, Indonesia

Saat ini sebagian kalangan perbankan mulai melihat peluang di tengah-tengah kemajuan teknologi. Semenjak istilah bring your own device (BYOD) mulai menjamur, perbankan melihat peluang ekonomi. BYOD adalah kampanye untuk karyawan bekerja dengan peranti elektronik milik sendiri. Istilah ini mulai menyebar terkait besarnya penggunaan telepon pintar. Semakin banyak masyarakat Indonesia maupun di belahan dunia lainnya memanfaatkan substitusi “asisten” pribadi ini.

Perbankan berencana memanfaatkan fenomena ini dengan memungkinkan nasabahnya mengakses rekening bank mereka tanpa harus pergi ke bank terdekat. Ekstrimnya, sebagian orang menyatakan bahwa suatu saat sebuah bank tidak akan berbentuk fisik. Bangunan bank akan diganti dengan transaksi secara online. Namun konsep ini bukannya masih menjadi perdebatan. Cyrus Daruwala, Managing Director untuk IDC Financial Insights berpendapat soal ini.

“Apa yang terjadi saat ini, semua orang melihat cabang sebuah bank sebagai salah satu titik sentuh atau touchpoint. Coba pikirkan, di mana transaksi perbankan paling banyak dilakukan? Cabang, ATM, call center, dan point of sale (POS). Ketika kita menilik touchpoint ini, para nasabah Indonesia khususnya yang berusia lanjut masih merasa lebih aman untuk bertransaksi di sebuah cabang. Jika kelompok ini masih merasa lebih aman dengan bangunan bank fisik, kita tak bisa meniadakan bank fisik begitu saja,” terang Cyrus.

Penulis buku I Take This Train Too ini memberi pilihan di samping mengucurkan dana yang besar untuk teller dan ribuan bangunan bank di seluruh Indonesia. Ia menjelaskan sebuah konsep bernama video on demand. Seseorang dapat mengakses rekeningnya lewat sebuah kamera pendeteksi, tidak jauh berbeda dengan media sosial seperti Facebook.

Menurutnya, konsep otomatisasi dengan video embeded akan cukup membuat efek kejutan. Bahkan orang yang bersikap skeptis pada teknologi akan mengakui bahwa konsep ini menarik dan familiar karena mirip dengan sebuah kantor cabang pada umumnya. Indonesia membutuhkan kantor-kantor cabang dengan konsep masa depan.

Dengan adanya alat biometrik pengenal wajah, seseorang tidak perlu membawa-bawa dompet yang penuh dengan kartu dan coret-coretan. Pendeteksi ini akan otomatis mengenali nasabahnya dan nasabah tersebut dapat bertransaksi dalam waktu tiga menit untuk melakukan transaksi dengan waktu proses normal 25 menit. Hal ini mungkin diterapkan pada bank di Indonesia. Cyrus melihat bahwa perbankan Indonesia masih ingin menggapai masyarakat luas seperti petani, buruh, dan nelayan di daerah terpencil seperti Sabang.

Pertanyaannya adalah bagaimana menggapai kelompok masyarakat tadi? Ada dua cara menurut Cyrus, yakni dengan memanfaatkan kartu sim dan segaris sinyal telepon dan siapa saja dapat mengirim pesan singkat. Pesan singkat tersebut digunakan untuk melakukan transaksi. Kedua, cabang bisa saja berupa kantor pos, swalayan, atau mungkin saja kantor cabang normal. Tren terbaru di Indonesia yang tidak dilakukan di negara mana pun yang dinamakan correspondent banking yang lebih efisien. Konsep ini juga mungkin menjangkau masyarakat yang belum menggunakan jasa perbankan (unbanked).

“Tidak peduli Anda menjadi nasabah di bank mana. Pada tempat tersebut ditempatkan beberapa gerai, seperti swalayan. Tempat ini dapat digunakan publik untuk membayar tagihan bulanan, tagihan telepon; hampir segalanya dapat dilakukan di sana. Siapa saja dapat pergi ke touchpoint tersebut, tidak peduli seberapa jauh daerahnya akan tetap bisa dijangkau oleh perbankan. Bahkan bisa menjangkau unbanked masuk ke dalam ekosistem perbankan. “And that’s a very uniquely Indonesian thing,” tukasnya.

Sementara itu, situasi finansial Indonesia saat ini sangat terkait dengan kondisi Indonesia dalam sektor ekonomi. Menurut Cyrus, kalimat terbaik untuk mendeskripsikan Indonesia pada 2015 ini adalah bahwa tahun ini bukan tahun yang baik, namun juga bukan tahun yang terlalu buruk sehingga 2015 mungkin mudah dilupakan. Tidak ada hal yang terlalu baik atau yang terlalu buruk dalam perekonomian, pertumbuhan tahun ini mencapai persentase tertentu namun juga bukan tahun penuh bintang.

Bukan berarti perbankan tidak berjalan dengan baik, namun semua orang saat ini lebih banyak menyimpan aset. Ketika ekonomi tampak lebih mengencang, konsumen cenderung mencoba menyimpan lebih banyak. Jika hal ini terjadi, maka produksi mengecil dan GDP menurun. Selama masyarakat mengurangi konsumsi, maka uang yang berputar dalam money circuit atau liquidity pool, maka semakin sedikit yang dapat dilakukan oleh bank. Ini sebabnya bank mengatakan bahwa jika tiap orang menyimpan sekitar 2 hingga 5 juta rupiah dan menaruhnya di deposito masing-masing, bank juga bisa mendapatkan uang di tempat lainnya.

Jika terlihat aktifitas yang mendorong masyarakat untuk membelanjakan asetnya lebih banyak lagi, apakah itu berupa investasi, homebuyer, atau mencoba melihat efek dan pertukaran nilai mata uang. Hal-hal ini lah yang menghidupkan liquidity pool dan perbankan mulai menghasilkan uang. 2015 merupakan tahun yang cukup baik, namun ada kesempatan untuk menghadapi tantangan dan tahun depan akan berjalan dengan lebih baik.

Grace Eldora