• Rabu, 22 November 2017

Metode Pembayaran Bitwalking, Peluang atau Risiko?

Bitwalking, teknologi, metode, pembayaran

Inovasi mata uang digital sudah semakin semarak. Tidak lagi terpatok pada jasa perbankan, masyarakat global saat ini meiliki lebih banyak pilihan metode pembayaran. Sebelumnya telah diluncurkan mata uang Bitcoin yang berbasis maya. Kali ini, inovasi yang diluncurkan oleh Franky Imbesi dan co-founder Nissan Bahar. Inovasi ini dinamakan Bitwalking yang pada prinsipnya adalah mata uang tersebut bisa didapatkan dari seberapa jauh penggunanya telah berjalan kaki, cukup berbeda dari Bitcoin yang berbasis komputer.

Pertama, pengguna Bitwalking harus memiliki sebuah aplikasi telepon pintar. Setelah aplikasi tersebut dijalankan, secara otomatis akan menghitung dan melakukan verifikasi jumlah langkah kaki pengguna. Tiap 10.000 langkah atau sekitar delapan kilometer, pengguna menghasilkan sekitar satu dolar Bitwalking (BW). Kemudian pengguna akan diberi kesempatan untuk menggunakan penghasilannya untuk berbelanja di toko online atau menukarkan dengan uang tunai. Proyek ini telah menuai ketertarikan banyak investor, yakni lebih dari 10 juta dolar AS telah dikumpulkan. Investasi paling besar berasal dari Jepang yang juga membantu peluncuran mata uang tersebut dan menciptakan bank yang memastikan “langkah” dan tiap transaksi yang ada.

Persiapan peluncuran mata uang dari pergerakan manusia ini juga dilakukan oleh industri teknologi lainnya. Contohnya saja perusahaan raksasa elektronik Murata asal Jepang. Perusahaan ini sedang mempersiapkan sebuah gelang yang dilingkarkan pada pergelangan tangan untuk menyimpan ponsel pintar dengan layar yang menunjukkan berapa langkah yang telah ditempuh.

Begitu juga dengan perusahaan sepatu yang juga mendukung mata uang ini. Sebuah bank di Inggris dalam proses pembuatan perjanjian kerja sama dengan proyek yang sama. Kedua penemu memiliki latar belakang disruptive technology yang mampu mengembangkan dan memperkaya sebuah negara. Disruptive technology adalah inovasi, produk, atau jasa teknologi yang membuat teknologi atau produk sebelumnya menjadi terganggu. Terganggu artinya terancam eksistensi dominannya karena adanya teknologi, produk atau jasa yang baru tersebut. Tahun lalu, mereka telah meluncurkan Keepod, USB dengan kemampuan sebuah komputer seharga 7 dolar AS dan diluncurkan di Nairobi, Kenya, dan hingga saat ini tersebar di 87 negara.

Ide Bitwalking ini juga sebagai salah satu manifestasi gaya hidup sehat yang di kalangan penikmat pola fitness menjadi tambahan insentif untuk tetap sehat. Sebagai perhitungan, seorang pekerja reguler akan memperoleh sekitar 15 dolar BW per bulan, namun di negara-negara yang lebih miskin, diharapkan meraih pendapatan lebih besar. Hal ini sebanding dengan jarak tempuh “langkah” yang lebih banyak. Di negara seperti Kenya dan Malawi, perjalanan berkilo meter masih ditempuh dengan berjalan kaki. Selain itu, peluncuran akan dilakukan di negara lain, seperti Inggris dan Jepang.

Keberlanjutan dan Keamanan Privasi
Mengenai inovasi ini, penasihat bisnis Karen Chinkwita dari Jubilee Enterprises menyatakan risiko yang mungkin muncul. Dengan adanya mata uang ini, ada kemungkinan masyarakat akan lebih memilih untuk berjalan dan tidak bekerja. “Namun untuk sebagian besar orang yang ingin mendapat penghasilan lebih mungkin akan melakukan keduanya. Dengan pemberian edukasi, kita dapat mengajarkan mereka untuk menggunakan uang tersebut untuk menciptakan peluang yang lebih banyak,” jelasnya. Jepang adalah salah satu negara yang memberikan insentif bagi karyawan yang melakukan kegiatan olahraga. Salah satu waralaba terbesar Lawson juga memberlakukan bonus hingga 50 dolar per tahun untuk pekerjanya yang tetap menjaga hidup sehat.

Terkait kebebasan pasar, Bitwalking direncanakan untuk dapat digunakan secara bebas untuk membeli barang dan jasa. Toko online juga akan memberlakukan harga yang sama antara dolar AS dan dolar BW. Namun inovasi ini masih memiliki tantangan tersendiri. Belum dapat dipastikan apakah nilai mata uang yang mudah didapatkan oleh penggunanya mampu mempertahankan nilai mata uang tersebut. Juga tidak dapat dipastikan berapa lama para pemodal mampu menyokong untuk periode tertentu sementara membangun nilai-nilai bisnisnya.

Poin pertimbangan lainnya adalah bahwa aplikasi ini merekam kebiasaan berjalan penggunanya. Data ini bisa bernilai bagi para pembuat iklan untuk meraup keuntungan tertentu. Selain itu ada kekhawatiran tentang privasi penggunanya. “Itu tidak untuk dijual,” ujar Bahar menepis pertanyaan bahwa data tersebut akan diperjualbelikan. “Kami mungkin akan melakukan eksplorasi penawaran pada para pengiklan untuk fokus pada kelompok tertentu, bergantung pada keaktifan pengguna tersebut. Namun kami tidak akan memberikan informasi apapun mengenai pergerakan per individu,” tegasnya.

Setiap transaksi dan transfer mata uang baru ini akan dimonitor secara dengan baik, termasuk dengan transaksi yang melewati bank sentral dan akan memberikan verifikasi menggunakan metode block chain. Pengguna memiliki akses pada akun pribadi yang menyimpan tiap dolar yang sudah dihasilkan. Aplikasi tersebut juga akan memungkinkan pengguna untuk saling transfer antar pengguna. “Tidak peduli di mana mereka tinggal,” cetus Imbesi. Aplikasi ini bukan inovasi yang dicetuskan untuk pertama kalinya. Sebelumnya, beberapa perusahaan startup telah mencoba mengembangkan ide ini dengan algoritma tertentu. Tidak disebutkan bagaimana akses masyarakat di dua negara Afrika tempat peluncuran tersebut mengakses internet dan perangkat ponsel pintar ini.

Grace Eldora