• Kamis, 23 November 2017

Prediksi Pakar Finansial untuk 2016

finansial, prediksi, 2016

Beberapa pakar menyampaikan prediksi finansial di tahun mendatang. CIO Bessemer Trust yakni Rebecca Patterson adalah salah satunya. Ia berpengalaman mengawasi aset senilai lebih dari 100 miliar dolar AS untuk sebagian keluarga terkaya di dunia. Para investor telah menimbang-nimbang langkahnya pasca kejadian di Paris beberapa waktu lalu yang akan menciptakan krisis pengungsian sehingga mulai berdampak pada sektor ekonomi. Perubahan regulasi yang sangat cepat membuat konsumen mengubah pola konsumsinya.

Sentimen ini berkembang di seluruh Eropa sehingga mata uang euro melemah. Menurut Patterson, saat-saat ini masih tergolong kritis di wilayah Eropa terkait krisis pengungsi, politik, dan pengaturan regulasi. Hal ini menjadi salah satu tantangan terbesar bagi Uni Eropa. Beberapa negara sedang memikirkan perbatasan negaranya dibandingkan dengan sebelumnya dan menurutnya, kondisi Uni Eropa sangat memengaruhi pasar modal.

Sejalan dengan Patterson, Managing Director pada Morgan Stanley Investment Management, Jim Caron, menyatakan bahwa risiko inflasi pada 2015 akan berdampak besar pada pasar modal. Masyarakat akan bertanya-tanya mengenai melambatnya laju Fed terkait iklim ekonomi yang akan berubah. “Hal ini akan mengangkat hasil (yield) Treasury 30 tahun, kemungkinan mencapai 3,75%,” ujarnya.

Pertumbuhan jumlah perusahaan startup yang terlalu besar dalam waktu singkat juga menjadi salah satu fokus pada 2016. Perusahaan startup di Eropa sangat berkembang mencapai jumlah yang tidak mampu disokong oleh sektor finansial untuk mampu bertahan. Hal ini disampaikan oleh co-founder Greycroft Partners, Alan Patricof mengingat nilai seluruh perusahaan startup yang mencapai lebih dari 1 miliar dolar AS.

Dan Fuss, Vice Chairman Loomis Sayles yakni salah seorang yang telah lama mengikuti perkembangan saham dunia mengatakan, 2016 merupakan tahun yang sulit diperkirakan. Menurutnya, yield dari Treasury sepuluh tahun akan naik ke 2,6% hingga 2,8% pada akhir tahun depan yang sedikit meningkat dibandingkan dengan nilai saat ini. Dan mengharapkan para investor untuk tetap bertahan pada masa-masa krisis tersebut mengingat pergerakan Fed karena investasi akan menciptakan peluang-peluang usaha yang baru bagi perusahaan dengan maturitas lima hingga 12 tahun dan lebih berhati-hati untuk perusahaan berbasis hasil tinggi, tidak terlalu mengandalkan indeks pendanaan.

Russ Koesterich sebagai strategis pada perusahaan pengelolaan aset terbesar, BlackRock, mengatakan bahwa Fed tidak akan berpengaruh besar pada 2016. Ia memprediksi pertumbuhan global akan tetap berjalan lambat sehingga meningkatkan kehausan masyarakat terhadap aset dengan yield yang lebih besar.

Tulio Vera, Chief Global Investment Strategist untuk J.P. Morgan Latin American Private Bank mengatakan, ekuitas Argentina berjalan semakin baik sehingga akan mempengaruhi seluruh wilayah Amerika Latin. Investor didorong untuk melihat potensi investasi di tahun depan. “Ada secercah sinar dari Argentina. Hal ini tidak hanya penting bagi negara tersebut, namun juga untuk regional sekitarnya. Akan muncul beberapa poin yang sangat menarik pada aset Amerika Latin mulai saat ini hingga akhir tahun depan. Kita semakin dekat pada waktu masuk ke sana bagi sebagian pasar saham tertentu,” ujar Tulio. Berbeda dengan iklim investasi di Brazil yang masih belum stabil, Meksiko masih mengambil keuntungan dari pemulihan ekonomi AS khususnya di industri otomotif.

Sementara risiko yang muncul pasca guncangan ekonomi global masih akan terasa pada 2016. Ruchir Sharma yang merupakan Head Emerging Markets Equity dari Morgan Stanley Investment Management memprediksi bahwa Tiongkok akan menghadapi berbagai dinamika terkait berbagai situasi. Yang dimaksudkan Ruchir adalah besarnya hutang negara, investasi yang berlebihan, dan populasi yang merosot digabungkan dengan pertumbuhan yang kurang baik. “Sementara negara-negara dengan hutang negara relatif lebih kecil dari Eropa Timur hingga Asia Selatan terlihat sedang mencari posisi yang lebih stabil pada siklus berikutnya,” tambahnya.

Menurut Ruchir, ekuitas Tiongkok mungkin saja akan berlarut-larut sejak penurunan global pada akhir 2015 dan masih berdampak hingga 2016. Berbeda dengan Ruchir, salah satu pakar ekonomi Tiongkok Yang Zhao mengatakan bahwa Tiongkok akan dalam iklim yang cukup baik dan akan lebih fokus pada sektor jasa. Pasar pekerja masih cukup seimbang meskipun dalam pertumbuhan Gross Domestic Product (Produk Domestik Bruto) senilai 5,8%.

Pertumbuhan ini akan menciptakan lapangan kerja baru dan industri finansial masih akan tetap bertahan cukup kuat karena dukungan pemerintah. “Jika ada institusi finansial yang penting secara sistematis mengalami permasalahan, para pakar percaya bahwa pemerintah yang akan maju dan menyokong secara aktif,” ujar Yang. Yang Zhao merupakan pakar ekonomi dari Nomura Holdings yang menurunkan prediksi GDP Tiongkok dari 6,7% menjadi 5,8%.

Nada positif juga disampaikan oleh Thomas J. Lee, Managing Partner pada Fundstrat Global Advisors berpendapat, ekuitas akan jauh lebih baik pada 2016 khususnya terhadap perbankan dan bisnis Blue-chip. “Sektor Perbankan akan mendapat benefit dari Fed yang menguat dan menaikkan ekuitas seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Saham-saham Blue-chip akan punya kekuatan lebih untuk hasil yang lebih besar, sejalan dengan penguatan sektor ekonomi,” jelas pakar tersebut.

Sebagian pakar ekonomi mengharapkan perekonomian AS membaik dari pada yang sebelumnya, namun kenyataannya masih ada keyakinan bahwa finansial AS tidak akan sebesar peningkatan ekonomi sebelumnya.

Grace Eldora