• Kamis, 23 November 2017

JK Harap Fed Tak Pengaruhi Suku Bunga Indonesia

suku bunga, pasar modal, JK

Jusuf Kalla mempertanyakan kebijakan BI yang mempertahankan suku bunga acuan sebesar 7,5%. Kritikan yang disampaikan di depan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardoyo. Suku bunga acuan yang tinggi menyebabkan ekonomi berbiaya tinggi terkait kebijakan bank untuk tidak menurunkan bunga kredit selama BI belum menurunkan BI rate. Hal ini membuat suku bunga deposito tidak dapat ditekan hingga di bawah angka tersebut. Akibatnya, dana dan aset masyarakat lebih terkonsentrasi di deposito dan sulit di arahkan ke pasar modal.

Hal ini menyebabkan daya beli masyarakat melemah karena terbebani dengan suku bunga tinggi saat akan mengambil kredit. Menurut JK, tidak ada alasan Indonesia untuk menaikkan suku bunga dengan The Fed. Diperkirakan kenaikan suku bunga The Fed masih di bawah besaran BI rate. Dengan ini, investor tetap akan melihat Indonesia sebagai lokasi investasi yang menarik. Kenaikan suku bunga The Fed hanya berkisar 0,25% sementara suku bunga BI rate masih cukup tinggi.

“Kita tidak mungkin membangun, selalu mengatakan apabila bunga tinggi maka investasi pasti selalu rendah. mengapa pembiayaan di ekonomi Indonesia 90% masih sektor perbankan dan masih 10% saham? Tidak mungkin orang mau membeli saham selama bunga deposito masih 10% atau 9%, tidak mungkin. Orang lebih pasti mendapatkan 8% bunga deposito atau berapa pun nilainya dibanding membeli saham dia belum pasti berapa dia dapat. Tapi coba bunga deposito cuma 4% atau 5% seperti di Malaysia atau di mana pun, pasti orang beli saham, lebih baik,” ujar Kalla.

Jusuf Kalla meminta BI sebagai lembaga independen bersedia mendengar saran dari berbagai pihak, termasuk masukan dari pemerintah dalam menentukan arah kebijakan moneternya. Menurutnya ada tiga kelemahan yang menyebabkan Indonesia kalah bersaing dengan negara lainnya. Tingkat suku bunga masih tinggi, minimnya sektor logistik dan infrastruktur, dan birokrasi yang panjang dan mahal.

Gubernur Bank Indonesia menyatakan bahwa kondisi perekonomian Indonesia pada saat ini perlu pembenahan dan penguatan struktur ekonomi. Dengan begitu akan meningkatkan kemampuan produksi perekonomian nasional. Langkah-langkah yang perlu ditempuh menurutnya adalah penguatan struktur pembiayaan domestik. Perlu segera dirumuskan strategi uang memobilisasi dana domestik sebagai sumber pembiayaan ekonomi. Saat terjadi gejolak perekonomian global, besarnya porsi dana asing jangka pendek menimbulkan kompleksitas pengendalian inflasi dan nilai tukar, sehingga dapat membuat ekonomi Indonesia mudah terombang-ambing.

Langkah kedua yang perlu dilakukan adalah membenahi sektor riil dengan perbaikan komposisi produk ekspor. Komposisi produk ekspor yang mayoritas berupa produk sumber daya alam perlu restrukturisasi agar beralih ke produk olahan bernilai tambah tinggi. “Perlu juga lebih cepat memperkuat peran sektor industri sebagai basis peningkatan nilai tambah ekonomi,” ujarnya. Langkah selanjutnya adalah dengan penguatan sektor industri, mendorong persaingan pasar dan tata niaga yang lebih sehat di berbagai komoditas, termasuk bahan pangan pokok.

Menurut Gubernur BI, ada empat tantangan yang menghadang perekonomian Indonesia tahun depan. Pertama, risiko perlambatan terkait perekonomian Tiongkok, kedua risiko yang ditimbulkan karena perlambatan ekonomi Tiongkok, tren harga komoditas yang masih bergerak turun, ketidakpastian kebijakan suku bunga AS (Fed rate), dan risiko meningkatnya dana asing yang keluar (capital outflow).

Sementara itu Dekan Universitas Paramadina cum Ekonom Firmanzah menyayangkan sikap pemerintah yang mengkritik secara terbuka keputusan Bank Indonesia tak menurunkan suku bunga acuan. Hal ini, menurutnya, bisa menimbulkan persepsi negatif di publik. Penyampaian argumentasi ini bisa saja disampaikan pemerintah dan bank sentral pada sejumlah wadah tertentu, sepert Forum Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK). Forum ini diikuti oleh menteri keuangan, Gubernur BI, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Grace Eldora