• Rabu, 22 November 2017

Pemerintah Dukung Entrepreneur Muda

birokrasi, energi

Menteri Perdagangan Thomas T. Lembong berjanji akan memangkas birokrasi yang ada sekarang di pemerintahan. Hal ini disampaikannya setelah memprediksikan bahwa pada saat perekonomian lesu, acap kali muncul para pengusaha baru. “Tidak perlu ada birokrasi yang berbelit, sehingga mempersulit dunia usaha. Kami akan mempercepat, kami siap memangkas,” paparnya pada Forum Dialog Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).

Menteri Lembong mengakui bahwa alur birokrasi kerap berbelit-belit sehingga memperlambat penyelesaian masalah yang dihadapi entrepreneur. Ia menyatakan, pemerintah dan Kementerian Perdagangan sedang dalam pembahasan topik ini.

Dalam dialog ini, hadir pula Menteri Perindustrian Saleh Husin dan para entrepreneur muda untuk membahas masalah perekonomian. Beberapa pengusaha muda yang hadir adalah Ketua Umum BPP HIPMI Bahlil Lahadalia, Founder and Presiden Direktur Kebab Turki Baba Rafi yakni Hendy Setiono, Direktur Zalora Frans Budi Pranata, Head of Go Food by Go-Jek Jesayas Ferdinandus, Direktur PT Sarana Penida Ian Dafy Fachry, dan dimoderatori oleh CEO Mitra Kabel Indonesia Group Ardantya Syahreza.

“Kita ingin membuat peraturan baru. Sebetulnya ini bukan hal yang rahasia, semua orang sudah banyak yang tahu perizinan usaha di Indonesia sangat sulit,” ujarnya. Di tempat yang sama, Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan paket kebijakan III yang baru dikeluarkan dapat mendorong daya saing perdagangan karena dapat menurunkan biaya produksi.

“Memang selama ini dunia industri menginginkan industri kita bisa punya daya saing yang kuat. Salah satunya, biaya produksinya bisa bersaing dengan negara tetangga. Maka kita menurunkan biaya produksi dan kita berharap agar ini bisa turun,” ujar Saleh Husin. Paket kebijakan III, ujar Menteri Husin, diarahkan untuk meningkatkan produksi dan menurunkan ongkos produksi, yakni dengan menurunkan harga solar dan listrik untuk industri.

Ketua Bidang Perdagangan, Perindustrian dan BUMN dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Ian Dafy Fachry menambahkan bahwa paket kebijakan III, khususnya insentif listrik bisa membantu pelaku industri. “Penurunan harga BBM solar sebesar 200 rupiah memang membantu dalam dunia industri, kita tidak pungkiri, terutama untuk transportasi. Kalau solar turun, dampaknya tidak langsung, kalau tarif dasar listrik langsung,” ujar Direktur PT. Sarana Penida Bambang Riyadi Soegomo.

Sebelumnya, pemerintah mengeluarkan sejumlah kebijakan di bidang energi untuk industri yang dikemas dalam Paket Kebijakan Ekonomi Jilid III, yakni penurunan tarif listrik secara adjustment dengan perhitungan dari Inductively Coupled Plasma (ICP), kurs, dan inflasi. Diskon 30% bagi penggunaan listrik di beban yang bergerak dari pukul 23.00 – 08.00, serta kebijakan pembayaran tunggakan listrik F0 persen di tahun yang sama sementara 40% dibayarkan pada bulan ke-13 dengan dicicil.

Grace Eldora