• Kamis, 23 November 2017

Inovasi Jasa Finansial Dianggap Belum Cukup

inklusi keuangan, perbankan, inovasi, payment gateaway

Menjelang penghujung 2015, inovasi perbankan di Indonesia mulai mengarah kepada basis nasabah. Beberapa perbankan besar di Indonesia mulai mengembangkan sistem pembayaran online yang dapat diakses lewat ponsel pintar, sehingga tiap nasabah akan lebih nyaman menggunakan jasa transaksi perbankan. Namun inovasi yang saat ini diterapkan di Indonesia dianggap masih belum cukup.

Inovasi seperti aplikasi perbankan ini dianggap masih belum maksimal mengingat data IDC Financial Insights 2015 menyampaikan, masih sekitar dua dari lima nasabah mengalami perubahan perilaku. Pihak perbankan mulai mengembangkan sistem inklusi keuangan (financial inclution) yang mampu menjangkau unbanked people atau khalayak menengah ke bawah yang belum tersentuh oleh jasa perbakan.

Senior Executive Vice President Transaksi Perbankan Bank Mandiri Rico Usthavia Frans menyatakan sementara perbankan masih relatif lembam terhadap transformasi sistem pembayaran, di sisi lain muncul perusahaan startup yang memiliki berbagai macam inovasi sistem pembayaran. Rico menyampaikan bahwa saat ini beberapa startup di bidang e-money payment sudah tercatat di bank sentral Indonesia.

Demikian juga fakta bahwa demografi pengguna data komputasi awan (cloud computing) meningkat hingga 133%. Dari data ini dapat diambil hipotesis awal bahwa payment gateaway juga ikut memanfaatkan profil khalayak sebagai calon nasabahnya. Perusahaan pembayaraan online raksasa seperti Alibaba melakukan satu banding tiga dari keseluruhan transaksi global.

Seiring perkembangan ini, praktik shadow banking juga berkembang. Menurut data yang disampaikan oleh Michael Araneta, Research Director IDC Financial Insights Asia Pasific menyampaikan, pada 2012 persentase shadow banking mencapai 11%, namun dalam tiga tahun terakhir bertambah hingga mencapai 19%. Dengan ini, risiko perbankan akan semakin bertambah.

Eswar Viswanathan, Country Service Manager – IT Business Schneider Electric menyampaikan lima hal terpenting untuk memperkecil kemungkinan munculnya risiko dalam transformasi sistem pembayaran dengan digitalisasi, antara lain: what are the future needs, where I am now, how much it will cost, how to execute without down time, how to manage effectively, dan how to stay relevant.

Hal ini disampaikan dalam acara bertema “The Financial Services Summit 2015: Delivering on Big Ideas” yang diselenggarakan oleh International Data Corporation (IDC). Tujuan diadakannya kegiatan ini adalah untuk memaparkan ide atau inovasi besar terkait sektor jasa finansial di seluruh kawasan Asia Pasifik dan mempersiapkan Indonesia untuk 2016. Acara ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk perbankan.

Grace Eldora