• Kamis, 23 November 2017
HR

Employee Referral Siap Rekrut Kandidat Unggulan

employee referral

Program Employee Referral siap menggeser papan perekrutan online sebagai sumber terpopuler untuk menarik kandidat unggulan di Asia Tenggara, ungkap hasil studi LinkedIn (NYSE:LNKD), jaringan profesional online terbesar di dunia.

Dalam laporan tahunan Tren Perekrutan Asia Tenggara yang kelima, ditemukan bahwa sebanyak 52% dari sekitar 300 manager perekrutan menyatakan bahwa Employee Referral adalah sumber terpopuler kedua di Asia Tenggara dalam merekrut kandidat unggulan di tahun 2015. Angka ini naik dari tahun lalu yang hanya sebesar 48%.

Papan pencarian kerja online masih menjadi sumber paling populer dengan angka 54%, namun angka ini turun dari tahun lalu yang mencapai 58%. Sumber lain yang masuk ke dalam 3 besar adalah jaringan sosial profesional dengan angka 41%, naik dari tahun lalu yang hanya 35%. Secara global, jaringan sosial profesional masih menjadi sumber terpopuler dalam merekrut kandidat unggulan dengan angka 43%, diikuti papan pencarian kerja online (42%), dan program Employee Referral (32%).

“Tiga puluh enam persen dari para manager perekrutan yang kami survei menganggap bahwa program Employee Referral adalah tren yang akan bertahan lama di tengah kondisi perekrutan yang semakin kompetitif,” kata Feon Ang, Direktur Senior Talent Solution untuk LinkedIn Asia-Pasifik dan Jepang. “Program ini, bersama dengan peningkatan kesuksesan yang dicari perusahaan dalam membuat brand perusahaannya lebih dikenal di jaringan sosial profesional, bisa menjadi kombinasi sumber perekrutan strategis yang berperan penting dalam membantu perekrut memenangkan persaingan dalam mencari kandidat unggulan,” tambahnya.

Ketika berbicara tentang reputasi perusahaan, para perekrut ini menyatakan bahwa, selama 4 tahun belakangan mereka telah sukses membangun reputasi perusahaannya dengan menggunakan jaringan profesional online. Terbukti dengan sebanyak 57% responden mengatakan bahwa saluran ini adalah yang paling efektif. Di sisi lain, website perusahaan dinilai turun efektivitasnya dalam beberapa tahun belakangan menjadi hanya 61% pada laporan terakhir.

Para perekrut tidak bekerja sendiri dalam membangun reputasi perusahaan yang unggul. Kerja sama antara tim perekrutan dan marketing menjadi hal yang sangat penting. Sebanyak 46% perekrut yang disurvei menyatakan bahwa tim mereka senantiasa berbagi tanggung jawab dengan tim marketing dalam hal membangun reputasi perusahaan.

Temuan lainnya yang menarik:
• Volume dan anggaran perekrutan: 58% manager perekrutan yang disurvei menyatakan bahwa mereka berharap volume perekrutan di perusahaannya bisa meningkatdi tahun 2016 dibandingkan dengan tahun 2015, sementara sebanyak 50% mengatakan bahwa anggaran perekrutan naik di tahun 2015 dibandingkan tahun 2014, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Kesenjangan antara volume dan anggaran perekrutan masih menjadi tantangan bagi para perekrut. Hasil survei menunjukkan bahwa anggaran perekrutan tidak sebanding dengan peningkatan volume perekrutan. Ketidakseimbangan ini dipandang bisa menghambat transformasi strategi perekrutan di tahun-tahun mendatang.

• Pengukuran kualitas perekrutan: Time to fill menjadi faktor penting untuk mengukur kinerja perekrutan. Buktinya sebanyak 39% responden mengaku menggunakan indikator ini untuk mengukur kinerja tim perekrutan mereka. Bagaimanapun, secara jangka panjang, sebanyak 41% manager perekrutan menggunakan quality of hire sebagai indikator terpenting dalam memantau kinerja program perekrutan.

• Hambatan dalam menarik perhatian kandidat unggul: Menemukan kandidat unggulan di tengah permintaan yang tinggi merupakan tantangan besar bagi para perekrut (53%). Kompensasi (48%) dan persaingan dengan perusahaan lain (45%) juga menjadi isu utama yang dihadapi oleh para perekrut.

Iqbal Ramadhan