• Kamis, 23 November 2017
HR

Tiga Serikat Buruh AS Bahas Upah Pekerja

buruh, hacking, human resource

Tiga organisasi serikat buruh Amerika Serikat, yakni United Auto Workers (UAW), Detroit automakers, dan Fiat Chrysler Automobiles (FCA) memilih FCA sebagai pengarah mencapai kesepakatan kontrak pekerja. Ketiga serikat ini akan menetapkan pola-pola baru dalam kesepakatan selanjutnya. Diskusi ini akan membahas upah, bonus, profit sharing, keuntungan, dan kemungkinan akan membahas pula koalisi industri baru untuk mengurangi biaya layanan kesehatan.

Para pemimpin perserikatan kali ini berfokus pada isu yang dianggap paling penting, yakni sistem two-tier yang dianggap kontroversial karena mengakibatkan kesenjangan besar antar para pekerja. Saat ini, lebih dari 45% pekerja harian baru di Chrysler dibayar dengan jumlah maksimal 19.28 dolar AS per jam dibandingkan dengan pekerja veteran dibayar dengan jumlah 28.69 dolar AS per jam untuk pekerjaan yang sama.

Sistem two-tier ini diperkenalkan pertama kalinya pada 2007 untuk menghindari pekerja dari negara dengan biaya pekerja lebih kecil seperti Meksiko. Dari kesepakatan sebelumnya, jumlah pekerja dengan biaya kecil dibatasi hingga 20%. Namun kesepakatan ini dicabut sehubungan dengan bangkrutnya Chrysler dan General Motors pada 2009. Hal ini menyebabkan penurunan upah Chrysler hingga menyamai Toyota Motor dan Honda Motor.

Sebelumnya, FCA sempat menarik lebih dari 7.810 Jeep yang dilaporkan memungkinkan hacker menerobos dan mengambil kendali kendaraan tersebut. Jenis yang ditarik kembali adalah model mobil sport Jeep Renegade dari FCA dengan layar sentuh 6.5 inci, termasuk Dodges, Jeeps, Rams dan Chryslers.

Sebelum penarikan ini, Fiat sempat menyetujui penalti sebesar 105 juta dolar AS untuk menyelesaikan keluhan mengenai performa kendaraannya pada isu keamanan, termasuk kantong udara yang gagal pakai. NHTSA, yakni Lembaga Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Amerika, menerima kritikan karena dianggap meloloskan kendaraan yang tidak aman untuk digunakan publik.

Ancaman keamanan siber (cyber security) muncul dalam dimensi permasalahan yang baru. Di satu sisi, penggunaan teknologi memungkinkan fitur yang lebih canggih dan cepat. Namun di sisi lain, perlu adanya cepat tanggap teknologi untuk menghalangi para hacker yang mengambil kesempatan dan menimbulkan kekacauan. Data senat AS pada 2014 menyatakan bahwa hanya ada dua dari 16 automaker yang mampu mendeteksi dan merespon serangan hacker.

Charlie Miller dan Chris Valasek, dua hacker yang mengaku mampu membobol sistem keamananan mobil otomatis ini menyatakan bahwa hanya diperlukan laptop biasa untuk membajak sebuah Jeep Cherokee. Kedua orang ini menyatakan dapat mengakses unit pengendali elektronik mobil SUV, mulai dari mengganti menyalakan dan mengganti saluran radio hingga menonaktifkan mesin mobil tersebut. Kerentanan hacking bukan dikarenakan produk atau perangkat lunak yang tidak aman dari vendor, namun kesalahan dalam pengaplikasian dan pengaturannya.

Grace Eldora