• Kamis, 23 November 2017

Nilai Batu Bara Masih Anjlok

tambang, batu bara, komoditas

Sementara nilai batu bara menurun di Indonesia sebagai negara yang mengandalkan komoditasnya, Amerika juga mengalami penurunan komoditas yang sama. Sejumlah perusahaan pertambangan batu bara menyampaikan bahwa penurunan nilai ini adalah yang paling besar dalam beberapa dekade. Para penambang menghadapi perlambatan ekonomi sementara muncul persaingan yang semakin besar dengan energi gas alam.

Tercatat pada akhir 2009 nilai batu bara sejumlah 130 dolar AS per metrik ton. Jumlah ini mencapai nilai paling tinggi, yakni pada pertengahan 2011 sejumlah 330 dolar AS per metrik ton. Namun mulai pertengahan 2015 anjlok hingga hanya 90 dolar AS per metrik ton. Salah satu perusahaan tambang Alpha Natural Resources Inc. gulung tikar sementara perusahaan lainnya Consol Energy Inc. mengosongkan tambangnya untuk sementara.

Sebelumnya, pada Januari, perusahaan tambang Coronado Coal II LLC membeli Cliffs Natural Resources Inc. dengan tunai senilai 174 juta dolar AS. Selain itu, perusahaan Teco Coal LLC dibeli oleh Cambrian Coal tanpa up front payment. Teco Coal merupakan komponen penting dari holdingnya Teco Energy dan berkontribusi untuk pendapatan dan cash flow sejak pertengahan 1970-an.

Hal ini menunjukkan anjloknya nilai komoditas batu bara. Deputi Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia, Hendra Sinadia menyampaikan sejauh ini setidaknya 80% perusahaan tambang batu bara Indonesia telah berhenti berproduksi dan tutup untuk sementara. Menurutnya, hanya ada 500 pertambangan yang masih beroperasi di antara 3.000 perusahaan pemegang izin usaha tambang.

Harga batu bara dunia rata-rata senilai 59,19 dolar per ton pada Juni lalu, sementara harga batu bara acuan (HBA) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sejumlah 59,59 dolar AS per ton. Lanjut Hendra, banyak perusahaan batu bara merugi terkait biaya produksi batu bara berada di atas harga jual.

Grace Eldora