• Kamis, 23 November 2017

Mitigasi Risiko dengan EWS

early warning system

Sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) di Indonesia masih membutuhkan perhatian. Sesuai data Kementerian Kesehatan, selama kurun waktu 5 tahun antara 2010 hingga 2014 telah terjadi 1.907 kejadian bencana, terdiri dari 1.124 bencana alam, 626 bencana non alam dan 157 bencana sosial. Indonesia sebagai negara kepulauan, perlu EWS yang diaplikasikan di setiap daerah. Kutilang (Kotak untuk Tanggap Wilayah Ancaman Gempa) merupakan salah satu teknologi Indonesia sebagai EWS. Alat ini dapat mendeteksi 14 jenis bencana. Beberapa di antaranya adalah gempa bumi, tanah longsor, banjir, tsunami, pergeseran tanah, kekeringan, abrasi, dan kegagalan teknologi nuklir.

Cara kerja alat ini adalah dengan menggunakan server EWS yang diintegrasikan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Data bencana yang telah diinput ke server akan dipancarkan dalam bentuk frekuensi dari pemancar saluran televisi. Data digital ini dibaca oleh televisi dengan alat set-top box. Data ini akan otomatis difilter berdasarkan kode pos tempat kejadian bencana dan terbagi menjadi tiga kategori status bencana, yakni awas, siaga, dan waspada. “Tidak semua daerah awas atau tidak semua waspada. Harus ada filter berdasarkan kode posnya lewat internet protocol cloud (ip cloud). Lima digit kode pos adalah kode provonsi sampai ke desa. Wilayah di sekitar bencana akan diinfokan dengan pesan evakuasi yang harus dilakukan masyarakat,” terang Andi Kurnianto, staf Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Data dari server EWS hingga ke masyarakat hanya membutuhkan hitungan milisekon, sehingga informasi bisa diperoleh dengan cepat.

“Misalnya gempa bumi Yogyakarta pada 2007, sementara masyarakat gunung mengira ada gunung merapi dan lari ke laut, masyarakat pantai takut ada tsunami lalu lari ke gunung. Saat itu kacau karena belum ada EWS,” jelas Andi. Server EWS ini diintegrasikan dengan Perusahaan Umum untuk bencana banjir, BMKG untuk bencana gempa bumi. Penyaluran data ini sedang dibangun oleh Menkominfo. Namun saat ini frekuensi yang digunakan masih hanya lewat siaran televisi. Sehingga berfungsi ketika televisi menyala. “Kalau bencana kan biasanya listrik mati. Radio digital sekarang sudah ada pengembangan ini,” katanya.

Peluncuran Penerapan EWS pada Siaran TV Digital di Indonesia sudah dimulai sejak 2014. Sebelumnya, peraturan mengenai hal ini tercatat pada Peraturan Menteri (Permen) Komunikasi dan Informatika No.3 Tahun 2014 tentang Persyaratan Teknis Sistem Peringatan Dini Bencana Alam pada Alat dan Perangkat Penerima Televisi Siaran Digital Berbasis Standar Digital Video Broadcasting Terrestrial-Second Generation dan juga Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No.9 Tahun 2014 tentang Prasyaratan Teknis Alat dan Perangkat Penerima Televisi Siaran Digital Berbasis Standar Digital Video Broadcasting Terrestrial-Second Generation.

Ciri-ciri sistem peringatan dini bencana yang baik memuat beberapa kriteria, yakni informasi yang diberikan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, penyampaian informasi yang cepat sehingga dapat mencegah jatuhnya korban yang lebih banyak serta kerusakan yang lebih besar pada infrastruktur, informasi tersebut harus sampai ke setiap individu, isi dari informasi dapat dimengerti, serta informasi dapat diikuti dan dipatuhi oleh yang mendapatkannya.

Saat ini, negara yang paling baik dalam sistem peringatan dini adalah Jepang yang hanya memiliki dua pulau besar. Maka EWS akan lebih efektif dan efisien jika bisa diaplikasikan dengan baik di Indonesia dengan lebih dari 17 ribu pulau. Andi mengharapkan agar Permen Kominfo ini bisa segera disahkan menjadi Undang-Undang agar bisa diterapkan sampai ke pelosok daerah dan tidak terkendala oleh pihak televisi swasta atau televisi kabel.

Grace Eldora