• Kamis, 23 November 2017
HR

Human Trafficking: Perlu Reformasi Struktural

human, trafficking, Vietnam

Pada dasarnya, prinsip sebagian perusahaan adalah memperoleh keuntungan besar dengan pengeluaran kecil. Akan tetapi, terkadang prinsip ini disalahartikan oleh sebagian pihak. Keuntungan yang besar bisa diperoleh, salah satunya dengan menekan biaya produksi atau biaya administrasi.

Risiko administrasi ini merupakan pengolahan data produksi dan perecanaan keuangan, termasuk juga gaji karyawan. Sayangnya, terkadang satu poin ini yang menjadi celah perusahaan untuk mencapai keuntungan sebesar-besarnya. Hal inilah yang terjadi pada ratusan bahkan ribuan perusahaan yang melakukan penyelundupan manusia sebagai tenaga kerja dengan biaya kecil.

Sepanjang daratan Asia, begitu besar kebutuhan tenaga kerja dengan bayaran murah. Industri berbasis tenaga kerja meningkatkan migrasi antara daerah, bahkan antar negara. Sejalan dengan itu, mulailah muncul bisnis manusia–penyeluncupan dan perdagangan manusia. Beberapa waktu lalu diungkapkan soal para pekerja ilegal asal Kamboja di perairan Thailand.

Kondisi lain terjadi pada Vietnam, negara dengan populasi 92.5 juta orang, mengirimkan kurang lebih 107,000 pekerja legal ke luar negeri menurut data statistik tahun ini. Data ini meningkat 20 persen dari data tahun lalu. Namun sayangnya, tidak ada data yang jelas mengenai jumlah tenaga kerja ilegal yang disuplai dari Vietnam ke negara-negara lain.

Menurut investigasi, diketahui bahwa ratusan pekerja ilegal asal Vietnam mampu diselundupkan oleh sebuah geng yang dinamakan snakeheads dalam satu minggu ke Guangdong, sebuah provinsi di Tiongkok sepanjang perjalanan 700 km. Kondisi ini disebabkan oleh kebutuhan perusahaan untuk tenaga kerja yang bersedia dibayar murah.

Industri-industri di Tiongkok telah lama membutuhkan suplai pekerja murah domestik untuk menyokong sektor ekspor sejumlah 2.3 triliun dolar AS. Namun jumlah masyarakat lokal Tiongkok yang bergabung dengan industri ini terus berkurang. Solusi untuk masalah ini adalah penyelundupan tenaga kerja yang bisa dibayar setengah dari gaji buruh domestik. Menurut Badan Statistik Nasional Tiongkok, pekerja kerah biru lokal dibayar sekitar 2,800 yuan, yakni sekitar 450 dolar AS per bulan. Sementara itu, para buruh selundupan dapat diberi komisi setengah dari jumlah tersebut.

Kondisi ini diperparah karena begitu banyak pihak yang terkait dan tidak jarang melibatkan juga mafia penyelundupan. Perdagangan ilegal ini masih sulit untuk ditiadakan, sementara reformasi struktural yang menyeluruh sangat dibutuhkan karena masih ada oknum pemerintah dan law force yang masih terlibat.

Grace Eldora