• Kamis, 23 November 2017

Buruh Laut: Derita Pekerja Ilegal

headline

Sekelompok migran asal Kamboja ditemukan di Laut Cina Selatan, dipekerjakan sebagai buruh. Mereka bukan hanya sebagai nelayan biasa, namun tidak berbeda dengan seorang budak. Orang-orang ini bekerja di bawah tekanan jauh dari peradaban. Kekurangan buruh pada Industri Thailand kebanyakan diisi oleh migran asal Myanmar dan Kamboja.

Salah satu buruh bernama Lang Long asal Kamboja terpaksa bekerja di laut karena kondisi ekonomi keluarganya. Long memutuskan mengambil pekerjaan ini setelah ditawari bekerja oleh seorang agen trafficking untuk berlayar mengitari perbatasan Thailand.

Selama tiga tahun menjadi buruh nelayan, Long sempat dijual dua kali dari kapal ke kapal. Beberapa kali mencoba untuk kabur, leher Long dirantai oleh kapten kapal. Pada kasus yang lain, sebagian orang diculik kemudian dijadikan buruh paksa.

Kejadian yang mirip terjadi beberapa waktu yang lalu di Indonesia. Publik dikejutkan dengan ditemukannya kapal yang diduga milik nelayan ilegal di wilayah kepulauan Indonesia timur, yakni perairan Ambon. Saat itu nelayan asal Thailand mengaku menjadi buruh paksa dengan jam kerja 20 jam setiap hari di bawah tekanan dan kekerasan fisik.

Sebagian buruh paksa yang berhasil kabur diinterogasi oleh pihak yang berwajib. Hal-hal seperti kekerasan pada buruh paksa disebutkan sering terjadi. Pada beberapa kasus yang terjadi sampai membawa kematian bagi para pekerja tersebut.

Para buruh ini bekerja menangkap ikan-ikan murah untuk dijadikan bahan makanan kaleng untuk hewan peliharaan atau hewan ternak dan makanan laut untuk konsumsi. Sebagian besar hasil industri makanan kaleng ini diekspor ke Amerika. Harga bahan makanan laut meningkat,namun permintaan tetap dalam jumlah tinggi.

Akibatnya para pekerja ini dipaksa untuk bekerja lebih keras. Seringkali untuk kesalahan yang kecil para pekerja harus menerima kekerasan fisik dari kapten, sebagian sampai dibunuh. Banyak dari mereka tidak tahu bahasa kaptennya, sebagian tidak tidak bisa berenang, dan sebagian lagi baru pertama kali melihat perairan lepas.

Sementara itu banyak kasus seperti ini di negara-negara dunia ketiga. Pengawasan laut belum ketat sehingga lebih banyak perairan yang berada di luar patroli polisi laut. Anak-anak dijadikan pekerja di bawah umur dan para buruh bekerja paksa dengan perlakuan yang tidak manusiawi di Indonesia. Sementara itu mereka bekerja untuk memenuhi permintaan makanan kaleng untuk hewan peliharaan di kota-kota besar.

Sayangnya penanggulangan hal ini belum ditangani menyeluruh oleh pemerintah. Pelanggarnya harus ditindak secara hukum dan diganjar dengan hukuman yang setimpal. Selanjutnya pemerintah perlu mematikan tidak ada kasus sama yang terjadi lagi, khususnya di wilayah negara Indonesia.

Tag:
Grace Eldora
  • Human Trafficking: Perlu Reformasi Struktural - Values Magazine
    2 tahun ago

    […] Buruh Laut: Derita Pekerja Ilegal […]