• Kamis, 23 November 2017

Resilience Risk 2015

Resilience Risk 2015

Business continuity management (BCM) di Indonesia masih dibuntuti sejumlah tantangan dalam implementasinya, dan tantangan tersebut menyangkut pada kesiapan dan kultur dari manajemen risiko. Ucapan tersebut adalah gagasan dari Gunawan Husin, seorang praktisi manajemen risiko, sekaligus gagasan dasar dari dihelatnya acara Resilience Risk 2015, pada Selasa (19/2).

Seperti judulnya, Resilience Risk 2015 ini membahas secara garis besar mengenai bagaimana agar sebuah bisnis bisa beradaptasi dengan risiko dan tetap kuat serta berkelanjutan ke depannya, dengan mengambil tema “A Premier Forum for Business Continuity Management and Crisis Management Practitioners”.

Resiliensi terhadap risiko memang nyatanya lebih dari sekadar business continuity management. “Ini harus terus hidup dan terus berevolusi,” terang Gunawan.

Pada umumnya, tantangan utama dalam business continuity management adalah kurangnya skill set dalam manajemen risiko serta fokus utama praktisi yang terlalu pada bidang IT. Padahal, menurut survey yang dilakukan Gunawan dan tim pada tahun 2010, dari 120 responden, 83% menyatakan bahwa BCM adalah prioritas dalam manajemen risiko.

Event yang bertempat di Ritz Carlton Hotel, Kuningan, Jakarta, ini dibagi ke dalam beberapa agenda besar. Setelah pembukaan oleh Gunawan Husin, Director Continuum Asia Pte Ltd yang juga merupakan chairman untuk acara ini, acara berlanjut pada pemaparan tentang implementasi dan tantangan dalam mengelola data center oleh Adrian McPaul, Senior Vice President – Regional Critical Facilities Management Head Asia Citibank NA.

Berturut-turut kemudian Resilience Risk 2015 dilanjutkan oleh Dr. Jos Luhukay dari Arghajata Consulting, Executive Vice President Global Sales and Customer Operations dari Baselayer Peter McNamara, Ong Hock Chuan dari PT. Maverick Indonesia, dan Associate Professor of Information System dari Singapore Management University Enoch Ching.

Resilience Risk 2015 ditutup dengan diskusi panel yang dipimpin oleh Gunawan Husin, membahas soal bagaimana mengidentifikasi tantangan resiliensi bisnis, teknologi, dan masyarakat untuk kemudian mengubahnya menjadi peluang bagi pengembangan ke depannya.

Rahardan Apriadji