• Rabu, 22 November 2017

Danny Walla: Standar Pemberi Petuah

Danny Walla

Titik awal karier dipijaki Danny pada tahun 1971, hanya beberapa saat pasca kelulusannya dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Teddy Rachmat, yang juga seorang alumnus ITB, kala itu mengisi top management di PT Federal Motor—kini PT Astra Honda Motor. Beberapa kawan Danny yang telah lebih dulu bekerja di bawah pimpinan Teddy lantas mengajaknya untuk bergabung di dalam tim. “Jadi, karena beliau juga dari ITB, mungkin yang paling gampang cari anak-anak ITB,” jelas sarjana Teknik Mesin ITB—yang mengaku malu mengklaim dirinya insinyur mesin dewasa ini, karena maraknya teknologi mekatronika—ini. Ia pun akhirnya hijrah ke Jakarta demi menunaikan ajakan rekan-rekannya tersebut.

Masih hangat di ingatan Danny, bahwa tanggal 5 Oktober 1971 adalah pertama kalinya ia masuk ke dalam tim, tepatnya ia diposisikan di dalam tim assembling untuk Honda. “Tanggal 12 Oktober 1947, itu (produk yang dirilis, -red) adalah assembling pertama yang keluar dari assembling lain di Federal Motor,” ujarnya bangga. Pabrik Federal Motor tahun itu telah memiliki kurang lebih 100 karyawan, dan Danny adalah Kepala Seksi Las pada saat itu. Integritas dan dedikasi Danny kepada Astra membuat kariernya melonjak. Perlahan tapi pasti, delapan tahun kemudian, Danny resmi menggenggam tonggak manajerial tertinggi di PT Federal Motor sebagai Direktur pada tahun 1978.

Lebih dari separuh perjalanan karier Danny dilakukan untuk manufacturing. Kenyang pengalaman di industri tersebut membuatnya paham betul seluk-beluk dan celah yang harus diisi. Tak luput, manajemen risiko juga termasuk menjadi perhatiannya. Danny adalah salah satu saksi sekaligus aktor yang turut andil dalam perancangan Toyota Kijang ‘kotak sabun’ generasi pertama. “Sebenarnya, itu banyak terkait pemikiran risk management,” imbuhnya menyoroti kembali proses pembuatan mobil keluarga yang ikonik tersebut.

Pendiri PT Astra International William Soeryadjaya—atau yang lebih akrab dikenal sebagai Om William—di mata Danny merupakan sosok pemimpin yang agresif, cenderung seradak-seruduk dalam urusan mengelola risiko. Pada masa itu, di mana mobil-mobil murah sedang berada di puncak trennya, ide ‘gila’ Om William muncul, yang mencetuskan bahwa Toyota perlu membuat mobil murah juga. Gagasan liar tersebut bersambut nada sumbang dari mayoritas jajaran awak Toyota. “Toyota is Toyota, a big company. Kenapa harus membuat mobil seperti itu?” Danny menirukan seruan pendapat yang tidak sepaham dengan Om William saat itu.

Kisah Danny Walla sampai memuncaki posisi tertinggi di PT Astra dan juga menjadi komisaris di sejumlah perusahaan besar akan berlanjut di Values Magazine edisi November 2014.

Rahardan Apriadji