• Minggu, 21 Januari 2018

Business Continuity Plan (BCP) Untuk Kelangsungan Bisnis

Business Continuity Plan

Operasional sebuah bisnis sangat tergantung pada seberapa mampu sebuah perusahaan untuk menjaga keberlanjutan bisnis mereka. Saat ini, proses bisnis sudah terintegrasi dengan perkembangan teknologi informasi. Keberadaan teknologi informasi bukan lagi sekadar support melainkan sudah menjadi bagian dari integrasi bisnis perusahaan. Muhammad Mukhlis, Kepala Divisi Manajemen Risiko Bursa Efek Indonesia (BEI) mengatakan bahwa proses bisnis di BEI sudah sangat terintegrasi dengan perkembangan teknologi informasi. “Ternyata concern dalam manajemen risiko operasional secara menyeluruh, ujungnya akan terkait juga dengan risiko-risiko operasional yang berkaitan dengan masalah TI,” kata Mukhlis.

Saat ini, Bursa Efek Indonesia adalah salah satu perusahaan yang sudah memiliki standar ISO 27001 tentang keamanan informasi. Salah satu klausul dalam ISO 27001 adalah perusahaan tersebut harus memiliki Business Continuity Management (BCM) yang diturunkan menjadi Business Continuity Plan (BCP). Mukhlis mengatakan bahwa BEI adalah perusahaan bursa efek pertama di Asia Tenggara yang mengimplementasikan dan tersertifikat ISO 27001. Karena sudah tersertifikasi ISO 27001 itulah, BEI wajib untuk mengimplementasikan BCM yang baik dimana hal itu bersumber dari proses manajemen risiko yang baik pula. Semua itu akan diturunkan pada BCP yang mana di dalamnya terdapat risk assessment yang sangat penting dalam membuat pedoman tersebut.

Mukhlis memaparkan beberapa gambaran umum best practices yang biasanya dilakukan di BEI. Poin pertama adalah BCP harus bersandar pada identifikasi proses bisnis apa saja yang sedang berjalan di perusahaan. Indentifikasi proses itu bertujuan untuk melihat prioritas apa saja yang harus diutamakan berdasarkan nilai kritisnya proses tersebut terhadap keberlangsungan bisnis. Langkah kedua yang biasanya dilakukan adalah melakukan analisis untuk melihat seberapa besar dampak yang terjadi jika proses bisnis terganggu. Analisis yang dimaksud sering disebut dengan Business Impact Analysis. Pada akhirnya BIA akan mengarah pada process prioritization. Output tersebut adalah sebuah langkah untuk memprioritaskan jenis-jenis risiko yang berdampak tinggi terhadap proses bisnis sesuai dengan nilai kritisnya. Business Continuity Plan (BCP) ini diperuntukkan agar proses bisnis dapat berjalan meskipun ada gangguan.

Saat ditanya mengapa BEI perlu membentuk sebuah BCP, Mukhlis mengatakan bahwa karena kegagalan proses perdagangan di BEI tidak hanya memiliki dampak skala nasional tetapi juga internasional. “BEI telah menerapkan standar-standar internasional, itu salah satu bentuk komitmen BEI untuk menjaga tata kelola TI-nya,” tutur Mukhlis. Berdasarkan fakta umum, New York Stock Exchange dan NASDAQ memiliki jumlah transaksi harian dan bisa mencapai dua miliar transaksi per harinya. Secara perhitungan kasar, berarti sekitar 300-400 saham yang dijualbelikan per transaksinya. Di BEI sendiri, jumlah transaksi yang terjadi mencapai 100.000 transaksi dengan lebih dari 400 emiten dan 100 anggota bursa di BEI.

Iqbal Ramadhan