• Kamis, 26 April 2018

Siap Menghadapi Pelanggaran dan Kebocoran Data

kebocoran data ilustrasi

 

Lebih dari 40% perusahaan yang telah disurvey oleh Experian Data Breach Resolution and Ponemon Institute menyebutkan bahwa mereka, setidaknya, pernah satu kali menghadapi permasalahan keamanan perusahaan, naik 10% dari tahun 2013. Seiring dengan kemungkinan kebocoran yang terjadi semakin besar, 73% responden mengatakan bahwa perusahaan mereka telah memberlakukan rencana untuk mengantisipasi risiko terjadinya kebocoran data, naik 12% dari tahun lalu, dan 48% dari mereka meningkatkan investasi untuk keamanan teknologi dalam setahun ke belakang.

“Rencana yang telah matang tidak mengindikasikan bahwa Anda siap,” ujar Michael Bruemmer, wakil direktur Experian Data Breach Resolution. “Harus disiapkan tim dari para pimpinan eksekutif yang langsung terjun ke lapangan untuk menjalankan rencana tersebut, untuk memastikan teknologi yang digunakan up-to-date, praktek pelanggaran terkendali, dan perlindungan produk untuk para konsumen telah direncanakan matang sebelumnya, agar bisa segera direspon saat terjadi sebuah insiden.”

Sosial media adalah salah satu jalur yang digunakan untuk langsung melihat lapangan. Direksi perusahaan mulai tertarik dengan penggunaan sosial media, dengan 41% direktur yang disurvey PwC mengatakan bahwa mereka setidaknya kini mulai terlibat dalam mengawasi social media monitoring yang dilakukan perusahaan–untuk mencegah risiko reputasi di mata publik–naik 10% dari tahun 2012.

Berhadapan dengan praktik pelanggaran seringkali menimbulkan kecurigaan. Bahkan kecurigaan kepada pihak internal. Hasil riset dari Chulalongkorn University and Harvard Business School menyebutkan ada sejumlah pegawai yang memilki asumsi yang sama akan gaji yang pantas diperoleh seorang CEO–dan ternyata angka yang mereka perkirakan jauh lebih rendah dibanding gaji yang sebenarnya diterima sang CEO.

Pihak eksternal pun tak luput dari pandangan sinis para anggota perusahaan. Dan, sialnya, kecurigaan itu terbukti. Hasil laporan dari Global Witness memperlihatkan bahwa banyak perusahaan anonimus yang enggan membuka identitas para pemiliknya. Padahal mereka telah melakukan banyak penipuan dan pencurian sumber daya dari beberapa negara berkembang dan berbagai kegiatan perpolitikan.

Rahardan Apriadji